KEBUMEN – Di tangan Havril Setiawan, lahan pekarangan sekitar 100 ubin di Dukuh Keceme RT 01 RW 03, Desa Mrinen, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, bukan lagi sekadar halaman rumah.
Lahan tersebut disulap menjadi tempat pembibitan kelapa dengan ribuan tanaman yang tertata dan dirawat setiap hari. Memasuki tahun kedua, usaha Havril kini telah berkembang dengan jumlah bibit mencapai sekitar 10 ribu batang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 5 ribu bibit masih dalam proses pendederan. Sementara 5 ribu lainnya telah tumbuh dengan ukuran sekitar 50 sentimeter hingga satu meter dan siap dipasarkan.
Untuk mendapatkan bibit yang siap tanam, prosesnya membutuhkan waktu sekitar lima sampai enam bulan sejak tahap awal pendederan.
Havril tidak hanya membudidayakan satu jenis kelapa. Sejumlah varietas dikembangkan, mulai dari kelapa Jawa, Gading, Wulung, Puyuh, hingga Genjah Entok.
Harga bibit pun cukup terjangkau, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per batang. Besaran harga disesuaikan dengan jenis, usia, dan ukuran bibit.
Pesanan Tak Hanya Datang dari Kebumen
Seiring berkembangnya usaha, pemasaran bibit kelapa Havril mulai menjangkau wilayah yang lebih luas.
Jika sebelumnya lebih banyak memenuhi kebutuhan masyarakat Kebumen dan daerah sekitar, kini bibit tersebut juga dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia.
Mulai dari Jawa Timur, Sumatra, hingga Kalimantan.
“Yang paling banyak diminati itu kelapa Jawa. Kalau pengiriman ke Sumatra dan Kalimantan biasanya untuk kebutuhan program hilirisasi dan penghijauan,” ujar Havril, Senin (10/8/2026).
Bagi Havril, membesarkan bibit kelapa bukan pekerjaan yang bisa dilakukan secara asal. Ada proses panjang dan ketelitian yang harus diperhatikan sejak memilih buah hingga bibit siap ditanam.
Salah satu tantangan terbesar adalah menentukan buah kelapa yang tepat untuk dijadikan bahan pembibitan.
Buah yang terlalu muda memiliki risiko kegagalan tumbuh lebih tinggi dibandingkan kelapa yang sudah tua.
Tidak hanya itu, kondisi media tanam juga menjadi perhatian. Media harus memiliki kelembapan yang cukup, namun tidak boleh terlalu basah.
Musim Hujan Justru Harus Kurangi Air
Perawatan bibit menjadi semakin penting ketika memasuki perubahan musim.
Pada musim hujan, Havril justru mengurangi penyiraman untuk mencegah media tanam terlalu basah. Sebaliknya, ketika musim kemarau, kelembapan harus tetap dijaga agar bibit tidak mengalami gangguan pertumbuhan.
“Kalau kelembapan terlalu tinggi biasanya muncul jamur. Saat musim hujan kami mengurangi penyiraman supaya media tidak becek. Sebaliknya saat musim kemarau, yang penting kelembapannya tetap terjaga,” jelasnya.
Dua tahun berkecimpung di dunia pembibitan membuat Havril mulai memahami berbagai karakteristik bibit dan cara mengatasi risiko kegagalan.
Pengalaman tersebut perlahan membuahkan hasil. Dari ribuan bibit yang dirawat, tingkat kegagalan tumbuh kini bisa ditekan hingga sekitar 10 persen.
“Yang penting media tetap lembap tapi tidak becek. Kalau kelapanya sudah tua, peluang tumbuhnya tinggi. Kalau masih terlalu muda, peluang hidupnya bisa sekitar lima puluh banding lima puluh. Alhamdulillah sekarang yang gagal tumbuh hanya sekitar 10 persen,” katanya.
Kini, dari lahan yang tidak terlalu luas, Havril mampu mengembangkan usaha yang pasarnya menembus berbagai daerah.
Apa yang dilakukan Havril menjadi gambaran bahwa peluang usaha tidak selalu membutuhkan lahan luas. Dengan pengetahuan, ketekunan, dan pengelolaan yang tepat, pekarangan pun dapat diubah menjadi sumber penghasilan sekaligus membuka akses pasar hingga ke luar daerah.
Penulis : Yuli
Editor : Luthfi







